Jumat, 11 September 2015

Sabar adalah Pintu Kebaikan

Sesungguhnya iman itu terdiri atas dua bagian: sebagian sabar dan sebagian syukur. Keduanya merupakan dua sifat dari sifat-sifat Allah Ta'ala dan dua nama dari al-asmaa-ul-husnaa, di mana Dia menamakan Diri-Nya dengan nama ash-Shabuur dan asy-Syakuur. Maka kebodohan terhadap hakikat sabar dan syukur, sebenarnya adalah kebodohan daripada sifat-sifat Dia Ta'ala.

Keutamaan Sabar

Allah Ta'ala sesungguhnya telah menyifatkan orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat. Ia menambahkan lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar. Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu sebagai hasil (buah) dari sabar. Maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika mereka berhati teguh (sabar). – Q.S. As-Sajdah [32]: 24

Dan telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka. – Q.S. Al A'raaf [7]: 137

Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka. – Q.S. Al-Qashash [28]: 54

Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung. – Q.S. Az-Zumar [39]: 10

Maka tidak ada dari pendekatan diri manusia kepada Allah (ibadah), melainkan pahalanya itu ditentukan dengan kadar dan dapat dihitung, selain sabar. Dan sesungguhnya adanya puasa itu sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar, maka Allah Ta'ala mengaitkan puasa itu bagi orang-orang yang bersabar, bahwa Ia bersama mereka.

Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar – Q.S. Al-Anfaal [8]: 46.

Ya! Kalau kamu sabar dan memelihara diri, sedang mereka datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya, Tuhan akan membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang akan membinasakan – Q.S. Ali 'Imran [3]: 125.

Dan penelitian semua ayat-ayat tentang kedudukan sabar itu akan panjang bila diteruskan.

Adapun hadits-hadits yang menyangkut sabar, maka antara lain dapat disebutkan bahwasanya Nabi saw bersabda: "Sabar itu separuh iman", sebagaimana nanti akan diterangkan soal sabar itu separuh iman. Adapun hadits-hadits yang lain di antaranya:

Dari yang sekurang-kurangnya diberikan kepada kamu, ialah: keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang diberikan keberuntungan dari keyakinan dan kesungguhan sabar itu, niscaya ia tidak peduli dengan yang luput dari padanya, dari shalat malam dan puasa siang. Dan engkau bersabar di atas apa yang menimpa atas diri engkau, adalah lebih aku sukai, daripada disempurnakan oleh setiap orang daripada kamu, kepadaku, dengan seperti amalan semua kamu. Akan tetapi aku takut, bahwa dibukakan kepadamu dunia sesudahku. Lalu sebagian kamu menetang sebagian yang lain. Dan akan ditantang kamu oleh penduduk langit (para malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar dan memperhitungkan diri, niscaya memperoleh kesempurnaan pahalanya". Kemudian Nabi s.a.w. membaca firman Allah Ta'ala: "Apa yang di sisi kamu itu akan hilang dan apa yang di sisi Allah itu yang kekal. Dan akan Kami berikan kepada orang-oang yang sabar itu pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya – Q.S. An-Nahl [16]: 96

Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi s.a.w ditanyakan tentang iman, maka beliau menjawab: "Sabar dan suka memaafkan".

Dikatakan bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.: "Berakhlaklah dengan akhlak-KU! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku, ialah, bahwa Aku Mahasabar".

Pada hadits yang diriwayatkan 'Atha' dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah saw masuk ke tempat orang-orang Anshar, lalu beliau bertanya: "Apakah kamu ini semua orang beriman?". Semua mereka diam. Maka menjawab Umar r.a.: "Ya, wahai Rasulullah!". Nabi saw lalu bertanya: "Apakah tandanya keimanan kamu itu?" Mereka menjawab: "Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas cobaan. Dan kami rela dengan ketetapan Tuhan (qadha Allah Ta'ala)". Lalu Nabi saw menjawab: "Demi Tuhan pemilik Ka'bah! Benar kamu itu orang beriman!".

Nabi saw bersabda: "Pada kesabaran atas yang tidak engkau sukai itu banyak kebajikan".

Isa Al-Masih a.s. berkata: "Engkau sesungguhnya tiada akan memperoleh apa yang engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas apa yang tiada engkau sukai".

Adapun atsar, maka di antaranya ialah terdapat pada surat \khalifah Umar bin al-Khatab r.a. kepada Abu Musa Al-Asy'ari r.a., yang bunyinya sebagai berikut:

Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah, bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari yang lain: sabar pada waktu musibah itu baik. Dan yang lebih baik daripadanya lagi, ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah Ta'ala. Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki iman. Yang demikian itu, adalah bahwa takwa itu kebajikan yang utama. Dan takwa itu dengan sabar.

Ali r.a. berkata pula: "Sabar itu dari iman, adalah seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan tidak ada iman, bagi orang yang tiada mempunyai kesabaran."

Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashari, apabila membaca ayat: "Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati, seorang yang sabar. Seorang hamba yang amat baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan)" (Q.S. Shad [38]: 44), lalu beliau menangis dan berkata: "Alangkah menakjubkan! Ia yang memberi dan Ia yang memujinya."

Penjelasan Hakikat Sabar

Ketahuilah kiranya, bahwa sabar itu suatu maqam (tingkat) dari tingkat-tingkat agama. Dan suatu kedudukan dari kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah (saalikiin). Dan semua maqam agama itu hanya dapat tersusun baik dari tiga hal: ma’rifah, ahwal, dan amal. Maka ma'rifah itu adalah pokok, dia lah yang mewariskan ahwal; dan ahwal itu yang membuahkan amal.

Ma'rifah itu adalah seperti pohon kayu, ahwal adalah seperti ranting, dan amal seperti buah. Dan ini terdapat pada semua kedudukan para pejalan. Demikian halnya dengan sabar. Tiada akan sempurna sabar itu selain dengan ma'rifah yang mendahuluinya dan dengan ahwal yang tegak berdiri.

Adapun insan itu, maka sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya tanpa keinginan selain keinginan makan. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias, kemudian nafsu keinginan kawin. Dan tak ada sekali-kali pada insan--pada masa kecil tersebut--kekuatan sabar. Pada anak kecil itu yang ada hanyalah tentara hawa nafsu, seperti yang ada pada hewan. Akan tetapi, Allah Ta'ala dengan kurnia-Nya dan keluasan kepemurahan-Nya, memuliakan anak-anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka Allah Ta'ala mewakilkan kepada manusia itu ketika menginjak dewasa, dua malaikat. Yang satu memberinya petunjuk dan yang satu lagi menguatkannya. Maka berbedalah manusia itu dari hewan-hewan, dengan pertolongan dua malaikat tadi .

Maka jadilah insan itu diperlengkapi dengan sinar petunjuk, mengetahui bahwa mengikuti nafsu syahwat itu tidak disukai pada akibatnya. Akan tetapi, petunjuk itu tidaklah memadai, selama tidak ada baginya kemampuan untuk meninggalkan apa-apa yang mendatangkan kemelaratan. Lalu ia memerlukan kemampuan dan kekuatan yang dapat menolakkannya kepada menyembelih nafsu syahwatnya itu. Lalu ia melawan nafsu syahwat tersebut dengan kekuatan itu. Sehingga diputuskannya permusuhan nafsu syahwat tadi darinya. Maka Allah Ta'ala mewakilkan seorang malaikat lain padanya yang membetulkannya, meneguhkannya dan menguatkannya dengan tentara yang tiada engkau dapat melihatnya. IA memerintahkan tentara ini, untuk memerangi tentara nafsu syahwat. Maka sekali tentara ini yang lemah dan sekali ia yang kuat.

Hendaklah dipahami, bahwa peperangan itu, terjadi antara “penggerak agama” dan “penggerak hawa nafsu”. Dan peperangan antara keduanya, berlangsung terus menerus. Dan medan peperangan ini ialah qalb hamba.

Sumber bantuan kepada penggerak agama itu datangnya dari para malaikat, yang menolong barisan (tentara) Allah Ta'ala. Dan sumber bantuan penggerak nafsu syahwat itu, datangnya dari syaitan-syaitan yang membantu musuh-musuh Allah Ta'ala.

Maka sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama dalam menghadapi penggerak nafsu syahwat. Kalau penggerak agama itu tetap, sehingga dapat menahan penggerak nafsu syahwat dan terus-menerus menantangnya, maka penggerak agama itu telah menolong tentara Allah. Dan berhubung dengan orang-orang yang sabar. Dan kalau ia tinggalkan dan lemah, sehingga ia dikalahkan oleh nafsu syahwat dan ia tidak sabar pada menolaknya, niscaya ia berhubungan dengan mengikuti syaitan-syaitan.

Jadi, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan nafsu syahwat itu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu ahwal, yang dinamakan sabar, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak nafsu syahwat. Tetapnya penggerak agama itu adalah suatu hal yang dihasilkan oleh iman, dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawannya, karena sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sesungguhnya semua yang tersebut itu, adalah isyarat yang mengisyaratkan kepada hal-hal yang lebih tinggi dari ilmu mu'amalah. Maka kami terangkan, bahwa telah jelas sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama pada melawan penggerak hawa nafsu. Dan perlawanan ini adalah termasuk ciri khas anak-anak Adam, karena diwakilkan kepada mereka, malaikat-malaikat yang mulia yang menuliskan amal perbuatan mereka.

Sabar itu Setengah Iman

Ketahuilah kiranya, bahwa iman itu pada suatu kali, disandarkan secara mutlak kepada tasdiq dengan pokok-pokok agama, dan pada suatu kali lainnya dengan amal shalih yang datang dari tasdiq itu, dan pada suatu kali lainnya lagi keduanya sekaligus: iman dan amal shalih.

Adapun "sabar itu setengah iman" berdasarkan dua pandangan dan atas kehendak dua pemakaian kata. Pandangan pertama, iman itu dikatakan secara mutlak kepada semua tasdiq dan amalan. Lalu iman itu mempunyai dua sendi (rukun). Yang satu yakin dan yang lain sabar.

Yang dimaksudkan dengan yakin ialah ma'rifah-ma'rifah yang diyakini kepada pokok-pokok agama. Dan yang dimaksudkan dengan sabar ialah amal (berbuat) menurut yang dikehendaki oleh keyakinan. Keyakinan tersebut, misalnya, mengajarkan bahwa maksiat itu mendatangkan melarat dan tha'at itu mendatangkan manfaat. Dan tidak mungkin meninggalkan perbuatan maksiat dan rajin kepada tha'at, selain dengan sabar. Maka adalah sabar itu separuh iman dengan pandangan ini. Dan karena itulah, Rasulullah saw mengumpulkan di antara keduanya, dengan sabdanya: "Di antara yang paling sedikt yang diberikan kepada kamu ialah yakin dan keras kesabaran."

Pandangan kedua, iman itu dikatakan secara mutlak kepada ahwal yang membuahkan amal, dan bukan ma'rifah-ma'rifah. Dan ketika itu, terbagilah semua yang ditemui oleh hamba dalam hidupnya, kepada yang bermanfaat kepadanya di dunia dan di akhirat atau yang mendatangkan melarat kepadanya di dunia dan akhirat. Dan hamba itu dengan dikaitkan kepada yang mendatangkan melarat kepadanya mempunyai hal (sifat) syukur. Maka syukur itu dengan pandangan ini adalah salah satu dari dua bagian iman, sebagaimana yakin adalah salah satu dari dua bagian itu, menurut pandangan pertama di atas.

Dengan pandangan tersebut, Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Iman itu dua paruh (nishfu), separuh sabar dan separuh syukur".

Hal-Hal tentang Sabar

Ketahuilah kiranya bahwa sabar itu dua aspek: Pertama, aspek jasadiah, seperti menanggung kesukaran dengan badan dan tetap bertahan atas yang demikian. Dan ini ada kalanya dengan perbuatan, seperti mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sukar, baik itu dari perbuatan-perbuatan ibadan maupun yang bukan ibadah. Adakalanya dengan penanggungan seperti sabar dari pukulan keras, sakit parah dan luka-luka besar.

Kemudian aspek kedua, kalau hal itu dari nafsu syahwat perut dan kemaluan, maka dinamakan 'iffah (pemeliharaan diri). Kalau sabar itu pada musibah, maka disingkatkan saja atas nama sabar, lawannya adalah gelisah dan keluh kesah. Kalau sabar itu dari kekayaan dinamakan mengekang diri, lawannya dinamakan sombong dengan kesenangan (al-bathar). Kalau sabar pada peperangan dinamakan berani, lawannya pengecut. Kalau sabar itu dalam menahan amarah dinamakan lemah lembut, lawannya ialah at-tadzammur (pengutukan diri kepada yang sudah hilang). Kalau sabar itu pada suatu pergantian masa yang membosankan maka dinamakan lapang dada, lawannya mangkal hati dan sempit dada. Kalau sabar itu pada menahan diri dari kehidupan dunia maka dinamakan zuhud, lawannya rakus.

Maka yang terbanyak dari akhlak iman itu masuk dalam sabar. Karena itulah, pada suatu kali Nabi saw. ditanyakan tentang iman, lalu beliau menjawab: "itu adalah sabar". Karena sabar itu yang terbanyak dari amal-perbuatan iman dan yang termulia dari amal perbuatan itu. Allah Ta'ala mengumpulkan bagian-bagian itu dan semuanya dinamakan sabar, dengan firman-Nya:

Mereka yang sabar dalam musibah, kemiskinan dan ketika peperangan. Merekalah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertakwa - memelihara dirinya dari kejahatan – Q.S. Al-Baqarah [2]: 177

Jadi, inilah bagian-bagian sabar, dengan perbedaan hubungan-hubungannya. Dan siapa yang mengambil arti (maksud) dari nama, niscaya ia menyangka bahwa hal itu berbeda pada zatnya dan hakikatnya, dari segi ia melihat nama-nama itu berbeda. Maka arti itu pokok dan kata-kata itu adalah pengikut. Siapa yang mencari arti dari pengikut, niscaya tidak boleh tidak, ia akan tergelincir. Dan kepada dua golongan itulah, diisyaratkan dengan firman Allah Ta'ala: "Adakah orang yang berjalan menelungkup di atas mukanya lebih mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan dengan lurus di atas jalan yang benar?” – Q.S. Al-Mulk [67]: 22.

Ketahuilah kiranya, bahwa penggerak agama, dikaitkan kepada penggerak hawa nafsu itu mempunyai tiga hal keadaan:

  1. Bahwa ia memaksakan penggerak hawa nafsu. Lalu penggerak hawa nafsu itu tidak mempunyai lagi kekuatan untuk melawan. Dan sampai kepada yang demikian itu, dengan berkekalan sabar. Yang sampai kepada tingkat ini adalah sedikit. Yakni, ash-shiddiqun, dan al-muqarrabun. Mereka itulah orang-orang yang akan dipanggil: "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridla, yang diridlai."
     
  2. Bahwa menanglah pengajak-pengajak hawa nafsu secara mutlak, jatuhlah perlawanan penggerak agama. Lalu ia menyerahkan dirinya kepada tentara setan dan ia tidak berjuang (bermujahadah) karena berputus-asa. Merekalah orang-orang yang lalai, dan ini adalah golongan yang terbanyak. Kepada merekalah diisyaratkan dengan firman Allah Ta'ala: “Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami berikan petunjuk kepada setiap diri. Tetapi perkataan dari-Ku, sebenarnya akan terjadi, sesungguhnya Aku akan memenuhkan neraka Jahanam dengan jin dan manusia semuanya" – Q.S. As-Sajdah [32]: 13. Merekalah orang-orang yang membeli kehidupan duniawi dengan akhirat sehingga rugilah perniagaan mereka, dan dikatakan kepada orang yang bermaksud menunjuki jalan kepada mereka: "Berpalinglah engkau dari orang yang tiada memperdulikan pengajaran Kami dan hanya menginginkan kehidupan duniawi semata! Pengetahuan mereka hanya sehingga itu". (Q.S. An-Najm [53]: 29 — 30).

    Keadaan ini, tandanya ialah: putus asa, hilang harapan dan tertipu dengan angan-angan. Itulah yang paling bodoh, sebagaimana Nabi saw bersabda: "Orang yang pintar itu meng-agamakan dirinya dan berbuat amal untuk sesudah mati. Dan orang yang bodoh ialah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan ia berangan-angan atas Allah". Orang yang berkeadaan begini, apabila diberi pengajaran, niscaya menjawab: "Aku ingin bertobat. Akan tetapi, sukar tobat itu atas diriku. Lalu aku tidak mengharap padanya", atau ia tidak ingin bertobat akan tetapi membalas: "Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Pengasih, lagi Maha Pemurah. Maka Dia tidak memerlukan kepada tobatku."
     
  3. Bahwa peperangan itu adalah menjadi hal yang biasa di antara dua tentara. Sekali ia memperoleh kemenangan atas peperangan itu, dan sebaliknya. Inilah yang termasuk golonganal-mujahidun. Orang-orang yang berkeadaan dengan keadaan ini ialah mereka yang mencampuradukkan amal perbuatan yang baik dan yang lain yang jahat, seperti firman Allah Ta'ala: "Mereka telah mencampur-adukkan pekerjaan yang baik dengan yang buruk". Kiranya Allah Ta'ala menerima taubat mereka!

Penutup

Berkata sebagian orang 'arifin: "ahlush-shabri itu adalah atas tiga maqam. Pertama, orang-orang yang meninggalkan nafsu syahwat, dan ini adalah derajat orang-orang yang taubat. Kedua, orang-orang yang ridla dengan yang ditakdirkan Tuhan, dan ini adalah derajat orang-orang zahid. Ketiga, orang-orang yang suka kepada apa yang diperbuat Tuhannya, dan ini adalah derajat orang-orang shiddiq (ash-shiddiqin)."

Semoga Allah yang Maha Pengasih menganugrahkan kepada kita kesabaran. Amin.

Sumber : Bapak Zamzam AJT
                http://www.kadisiyah.org/id/kajian/ihya/rubu-keempat/sabar-adalah-gerbang-kebaikan.html

Struktur Manusia : Mengenal Jasad, Nafs, Qalb, Ruh, ‘Aql

Man‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu
Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya

Jasad atau Jisim atau Bentuk (jasd, jism, shuwar)

Tubuh manusia yang tersusun dari materi dasar api, tanah, air dan udara, sebagaimana yang dapat kita indrai. Unsur-unsur dasar yang membentuk manusia itu sama dengan unsur-unsur dasar dari bumi, tempatnya jasad itu tinggal.
Jasad dihidupkan oleh hembusan ruh. Setelah hidup ia memerlukan enersi, yang dapat diperolehnya dari makanan yang bersumber dari bumi.
“Dan sungguh Kami telah menciptakan al-insan dari saripati tanah.” 1

 Nafs (tunggal = an-nafs, jamak = al-anfus)


Merupakan suatu barzakh (intermediary) antara jasad dan ruh. Jiwa tersusun dari unsur cahaya ilahiah; ia memiliki suatu kehidupan tersendiri yang terpisah dari jasad. Jiwa memperoleh enersinya dari ruh.

Jiwa merupakan hakikat ke-insan-an seseorang—jiwa lah yang membuat insan berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Jiwa lah yang menjadi sasaran pendidikan Ilahi. Di dalam jiwa ditempatkan ruh; ke duanya ditempatkan dalam jasad. Alam jiwa disebut juga alam mitsal.

Jadi, selama perjalanannya di Bumi, jiwa (nafs) menggunakan kendaraan jasad. Dapat dikatakan jasad merupakan “nagari” atau “kota” pertama (yaitu, lingkungan yang paling dekat) bagi jiwa. Diberikannya perangkat jasad kepada jiwa dimaksudkan agar jiwa dapat mengambil bagian dalam pendidikan Ilahiah yang ditebarkan di Bumi. Di Bumi ini pula ia diseru untuk melaksanakan maksud dari penciptaannya.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah sesuatu pada kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan tak ada bagi mereka satu penolong pun selain Allah. 2

Dan adapun orang-orang yang takut (khawf) terhadap maqam Rabb-nya dan menahan nafs dari hawa nafsu, maka sesungguhnya jannah-lah tempatnya.3

Karena yang menjadi sasaran pendidikan ilahi adalah jiwa, pembahasan lebih mendalam ditujukan untuk memberikan pengantar bagi pendidikan jiwa melalui pensuciannya, yang disebut pula tazkiyatun-nafs atau jihadun-nafs.

 Ruh (tunggal = ruh, jamak = arwah)


Ruh tersusun dari unsur cahaya yang paling murni dan paling tinggi kedudukannya dalam keseluruhan aspek manusia. Yang dihembuskan kepada manusia setelah disiapkan segala sesuatunya.

Ruh memberikan kehidupan kepada jasad—tanpa ruh jasad segera terurai kembali menjadi unsur-unsur bumi pembentuknya. Ruh merupakan sumber enersi bagi nafs. Apabila cahaya ruh tidak mencapai nafs maka nafs tersebut, sekalipun dia tetap hidup, akan tetapi dia tidak memiliki enersi atau lumpuh.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (dari)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan af’idah. Sedikit sekali kalian bersyukur.4

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (dari)- Ku; maka hendaklah kalian tersungkur bersujud kepadanya.5

 Qalb (tunggal = qalb, jamak = qulub)


Aspek partikular dari an-nafs tempat dikendalikannya seluruh elemen yang lain.

Di dalam diri insan—tepatnya pada perangkat qalb-nya—bertemu tiga alam yang berbeda, yakni: jismaniyyah, mitsal, dan arwah atau disebut pula tiga martabat kauniyyah.

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seorang lelaki dua qalb dalam rongganya.6

 ‘Aql (al-‘aql, dibedakan dengan nalar atau akal jasad)


Aspek partikular dari Qalb, merupakan perangkat untuk menangkap dan mendapatkan al-‘ilm—yakni ilmu ketuhanan, yang didapatkan dengan hakikat penghambaan. Jadi, ilmu (al-‘ilm) ini dibedakan dengan ilmu biasa yang kita kenal sehari-hari, yaitu yang ditangkap oleh nalar dan didapatkan dengan jalan pengkajian.

Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai qalb yang dengan itu mereka ber-‘aql atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah al-qalb yang ada di dalam shudur.7

“Barangsiapa berbuat dosa, maka berpisahlah ia dari ‘aql-nya dan tidak akan kembali selamanya.”6

 Nafsu’l-Mutmainnah: yang Seyogyanya Dididik Menjadi Penggembala


Pensucian jiwa ditujukan untuk mendidik satu komponen jiwa—nafsu’l-muthmainnah—yang berperan sebagai penggembala yang kuat dan ber-ilmu, sehingga ia mampu mengatur komponen-komponen jiwa lainnya yang merupakan obyek gembalaannya. Jika yang seharusnya berperan sebagai sang gembala tertidur ataupun lumpuh kekurangan enersi, maka komponen-komponen lainnya bersikap liar dan kemudian saling berlomba menguasai qalb—yang berarti menguasai diri seseorang sepenuhnya.

Dan aku tidak membebaskan nafs-ku karena sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan (nafs amara bissu’), kecuali (nafs) yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.9

Dan aku bersumpah dengan nafs yang mencela (nafs al-lawwamah)10

Wahai nafs al-muthmainnah! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan ridha lagi diridhai-Nya.11

 Syahwat dan Hawa Nafsu


Pendidikan jiwa atau transformasi menuju Hakikat Insan yang sejati menghadapi tiga jenis musuh, yaitu: (1) Syahwat, hasrat yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat material; (2) Hawa-Nafsu, berkenaan dengan yang bersifat non-material, sperti misalnya takabur, riya’, ujub, harga-diri, dst.; (3) Syaithan, terdiri atas golongan jin dan manusia, yang mempengaruhi manusia dengan memperalat syahwat dan hawa-nafsu.

Dijadikan indah pada manusia kencintaan pada syahwat dari wanita-manita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. 12

Katakanlah, ”Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai (hubb) daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di sabil-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan ‘amr-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (al-qawm al-fasiqin). 13

Maka pernahkah kamu melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai sesembahannya (ilah) dan Allah menyesatkan berdasar ‘ilm-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan qalb-nya, dan menjadikan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?14

Pernahkah kamu melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai sesembahannya (ilah)? Maka apakah kamu dapat menjadi wakil atasnya?15

… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari sabil Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari sabil Allah akan mendapat azab yang sangat pedih disebabkan mereka melupakan Hari Penghisaban (yawm al-Hisab).16

 Qalb Sebagai Singgasana Sang Raja


Di dalam diri manusia ada segumpal daging yang apabila ia shalih maka shalih-lah seluruhnya, jika ia fasad (rusak) maka fasad-lah seluruhnya. 17

Qalb itu ibarat singgasana Sang Raja. Komponen diri mana saja yang tengah berhasil menduduki qalb akan berkedudukan sebagai Raja dan memperlakukan komponen-komponen lainnya sebagai bala-tentaranya. Jika shaleh Sang Raja tersebut, maka shaleh pula bala tentaranya; sedangkan bila Raja-nya fasad (rusak) maka fasad pula bala-tentaranya.

 Sang Raja yang tengah bertahta di atas singgasana qalb mempunyai 2 jenis bala-tentara:


1. Tentara Lahir: JISIM

• Tingkat 1: “… delapan pasang binatang ternak…” 18


1 Mata - Mata
2 Telinga - Telinga
3 Hidung - Hidung
4 Tangan - Tangan
5 Kaki - Kaki
6 Lidah - Perut
7 Mulut - Larinx
8 ↑ atau ↓ Pada orang lain

• Tingkat 2: “… tiga lapis kegelapan … “ 19

i. Penglihatan
ii. Pendengaran
iii. Al af’idah

 2. Tentara Batin: HAWA atau HAWA-NAFSU


Keberadaan hawa-nafsu (hawa), Imam Al-Ghazali menyebutnya tentara bathin dari qalb, pada diri seseorang hanya bisa dilihat oleh mata batin, atau penglihatan dari qalb. Hawa-nafsu itu sesuatu yang memang ada, dan memang tidak untuk dihilangkan. Tujuan dari tazkiyatun-nafs adalah untuk mengendalikannya dan bukan untuk menghilangkannya. Sekalipun demikian, bagi kebanyakan orang aspek hewaniyyah-nya yang terus berhasil menguasai dirinya, karena nafsu’l muthmainnah-nya lumpuh.

 CATATAN

1. QS Al-Mu’minun [23]: 12
2. QS Ar-Ra’d[13]: 11
3. QS An-Naazi’aat[79]: 40
4. QS As-Sajdah[32]: 9
5. QS Shaad[38]: 72
6. QS Al-Ahzab[33}: 4
7. QS Al-Hajj[22]:46
8. Hadits Nabi s.a.w.
9. QS Yusuf[12]: 53
10. QS Al-Qiyamah[75]:2
11. QS Al-Fajr[89]: 27 – 28
12. QS Ali ‘Imran [3] : 14
13. QS At-Taubah[9]: 24
14. QS Al-Jatsiyah[45]: 23
15. QS Al-Furqan[25]: 43
16. QS Shaad[38]: 26.
17. Hadits Nabi s.a.w
18. QS Az Zumar [39]: 6
19. QS An Nuur [24]: 40

Sumber : Bapak Zamzam AJT
                 http://nurassajatipurnamaalam.blogspot.co.id/2011/01/kajian-al-quran_8793.html

Tiga Pilar Agama atau Ad-diin : Islam, Iman, Ihsan

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. – Q.S. Al-Baqarah [2]: 208

Dari Umar r.a.: Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW, suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Hingga kemudian dia duduk di
hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Rasulullah SAW seraya berkata: "Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam", maka bersabdalah Rasulullah SAW: "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan pergi haji jika mampu", kemudian dia berkata: "Engkau benar." Kami semua heran, dia yang bertanya namun dia pula yang membenarkan.

Kemudian orang itu bertanya lagi: "Beritahukan aku tentang Iman". Lalu Beliau SAW
bersabda: "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk", kemudian dia berkata: "Engkau benar."

Kemudian dia berkata lagi: "Beritahukan aku tentang Ihsan." Lalu Beliau SAW
bersabda: "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau."

Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian Rasulullah SAW
bertanya: "Tahukah engkau siapa yang bertanya?" Aku berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau SAW bersabda: "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan Agama kalian“.


– H.R. Muslim

Ketiga rukun ini dijabarkan oleh Rasulullah SAW di dalam sebuah hadits yang sangat populer dan memiliki makna yang begitu dalam. Di sana dijelaskan pokok-pokok Agama Islam yang berdiri di atas tiga pilar besar:
1. Aspek Islam, yakni syari’at dan amal perbuatan. Di dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menjabarkan "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan pergi haji jika mampu." Oleh karena itu, memahami syari’at secara benar, lalu menegakkan dan menyempurnakannya, mengetahui apa yang dihalalkan dan yang diharamkan, memahami larangan dan perintah-Nya merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang muslim mana pun.
2. Aspek Iman, yakni terkait aqidah dan tauhid. Rasulullah SAW menjabarkan bahwa "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk."
Iman pada hakikatnya merupakan cahaya (Q.S. Az-Zumar [39]: 22), atau biasa juga disebut Nur Iman (Cahaya Iman).
أَفَمَن شَرَ‌حَ اللَّـهُ صَدْرَ‌هُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ‌ مِّن رَّ‌بِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ‌ اللَّـهِ ۚ أُولَـٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. – Q.S. Az-Zumar [39]: 22
Iman adalah cahaya yang memancar di hati/qalb (Q.S. Al Hujuraat [49]: 7, 14) orang-orang yang dikehendaki Allah (Q.S. Yunus [10]: 100). Jadi, meski kita mengatakan, "saya beriman!", namun bila Nur Iman itu tidak ada di hati kita, tidaklah bisa dikatakan kita beriman. seperti diungkapkan dalam firman-Nya, "Orang-orang Arab Badui itu berkata: 'Kami telah beriman'. Katakanlah: 'Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.'" (Q.S. Al-Hujuraat [49]: 14).
Oleh karena itu, Iman merupakan hak prerogatif Allah yang Dia sematkan ke dalam hati/qalb seorang hamba.
Iman adalah cahaya yang memancar di hati/qalb (Q.S. Al Hujuraat [49]: 7, 14) orang-orang yang dikehendaki Allah (Q.S. Yunus [10]: 100). Jadi, meski kita mengatakan, "Saya beriman!", namun bila Nur Iman itu tidak ada di hati kita, tidaklah bisa dikatakan kita beriman.
3. Aspek Ihsan, yakni tasawuf  atau yang terkait dengan akhlak karimah dan budi pekerti.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihatnya, maka Dia melihat engkau."
Ihsan merupakan aspek yang sangat penting di dalam kerangka ajaran Agama Islam karena terkait dengan "rasa batin" seorang hamba, dalam menghadapkan setiap aspek kehidupannya kepada “wajah” Tuhannya. Aspek inilah yang menahan seorang muslim untuk berpakaian ala kadarnya ketika menghadap Tuhannya di waktu shalat (meskipun pakaian tersebut adalah sah secara syari’at) karena menyadari kepada siapa ia menghadap.
Aspek ini pulalah yang menghiasi istighfar berulang-ulang di malam hari dengan penuh rasa sesal dan harap kepada Tuhannya. Aspek ini juga yang menjadikan seorang muslim bersungguh-sungguh mempersembahkan amal yang terbaik—karena di sinilah sang muslim dalam setiap degup jantungnya senantiasa menyelaraskan langkah-langkah kehidupannya dengan kehendak Allah lantaran "seakan-akan engkau melihat-Nya."
Ketiga aspek tersebut merupakan fondasi dasar, yakni pilar-pilar utama dari apa yang disebut sebagai pemahaman dan pengamalan Agama Islam yang menyeluruh. Oleh karena itu, tidaklah menjadi Muslim yang paripurna bila mengesampingkan salah satu dari ketiga pilar itu.
Tidak mungkin seorang muslim memasuki Islam secara paripurna bila ia hanya ber-tasawuf saja (Aspek Ihsan) tanpa mengerjakan syariat-syariat (Aspek Islam) sesuai apa yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Di sisi lain, tidak jugalah sempurna seorang Muslim ber-Islam secara paripurna bila hanya berpijak di atas Syari’at saja tanpa adanya Cahaya Iman dan pemahaman Aspek-Aspek Ihsan dalam kehidupannya.
Oleh karena itu, ketiga dimensi tersebut, yakni: beriman, mengerjakan syariat, dan berakhlak karimah serta berbudi pekerti luhur (tasawuf) tidak dapat dipisah-pisahkan dalam upaya menjalani keberislaman secara penuh, menyeluruh, kaffah.
Aspek Ihsan adalah satu aspek yang akhir-akhir ini kerap dikesampingkan di setiap pembahasan tentang Agama Islam dan banyak kalangan lebih menitik-beratkan pada terminologi "Iman-Islam", padahal "Ihsan" juga telah menjadi salah satu pilar besar yang tak terpisahkan dari ajaran Rasulullah SAW.
Sumber : Bapak Zamzam AJT
                http://www.kadisiyah.org/id/ajaran/muslim-paripurna/